Di Posting Oleh : SEO UNTUK PEMULA (TAUFIEQ)
Kategori :
FIQH
ASWAJA DALAM MENGHADAPI RADIKALISME
A.
Pendahuluan
Nahdlatul
Ulama’ (NU), sebagai jam’iyyah sekaligus gerakan diniyyah-ijtima’iyyah, sejak
awal berdirinya telah menjadikan faham Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai basis
teologi dan menganut salah satu dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan
Hanbali) sebagai pegangan dalam berfiqh (hukum). Ini bukan konsep belaka,
melainkan telah terbukti dalam praktek beragama warga NU melalui bimbingan
serta keteladanan para ulama’, baik dalam urusan pribadi, keluarga, bermuamalat
dan tak terkecuali adalah urusan berbangsa dan bernegara.
Al-Sunnah
wal Jama’ah tiada lain adalah ajaran agama Islam
yang murni, maka perwatakan (karakteristik)-nya adalah juga karakteristik agama
itu sendiri dan yang paling esensial adalah al-Tawassuth, jalan
pertengahan, tidak kekanan-kananan atau kekiri-kirian dan Rahmatan lil
‘Alamanin.[1]
Pada persoalan berbangsa dan bernegara, karakteristik ini benar-benar
tercermin dalam dinamika perjuangan NU dan ulama’ pesantren sejak masa revolusi
hingga detik-detik proklamasi kemerdekaan, bahkan ikut mewarnai dan terlibat
langsung saat kelahiran NKRI yang kita cintai ini. Berkat kegigihan pada ulama’
sebagai soko-guru NU, karakteristik itu senantiasa tetap terjaga dengan baik
pada masa-masa berikutnya hingga hari ini, walaupun harus menghadapi hambatan
serta tantangan, dan itulah sebenarnya bagian dari jihad fi sabilillah.
Akhir-akhir ini tantangan NU dalam berjihad menegakkan Aqidah Ahlussunnah wal
Jama’ah dan mempertahankan NKRI semakin berat, khususnya yang datang dari
kelompok radikal baik semata-mata mengusung paham-paham keagamaan murni maupun
sebagai kedok dengan tujuan akhir revolusi kekuasaan dan pembubaran NKRI.
B.
Pembahasan
1.
Keterlibatan
Fiqh Aswaja Dalam Berbangsa dan Bernegara
Nahdlatul
Ulama’ telah banyak merumuskan keputusan tentang persoalan negara, kebangsaan
dan pemerintahan, antara lain :
a.
Negara Indonesia
adalah negara Islam.
Menurut
para ulama, bahwa Negara Indonesia dapat dikategorikan sebagai darul Islam (negara
Islam), bukan daulah Islamiyyah (pemerintahan Islam), karena mayoritas penduduk
di wilayah ini beragama Islam dan dapat melaksanakan syari’at Islam dengan
bebas dan secara terang-terangan. Hal ini merujuk pada kitab Syarh Arba’in
Nawawi hal. 10 dan Bughyatul Mustarsyidin hal. 254. (Muktamar NU ke 11 tahun
1936 di Banjarmasin, Bahtsul Masail PWNU Jatim tahun 2004 di Banyuwangi, Munas
NU tahun 2012 di Cirebon).
b.
Status Presiden
RI adalah Waliyyul Amri Dharuriy bis Syaukah (penguasa pemerintahan
secara darurat sebab kekuasaanya). Hal ini dikarenakan ketidak-mungkinan
mendapat pemimpin yang memenuhi syarat yang ideal, dengan demikian bagaimanapun
pemimpin tetap harus ada, agar urusan berbangsa dan bernegara terjaga dan tidak
terbengkalai. (Muktamar NU ke 20 tahun 1954 di Surabaya).
c.
Nasbul Imam dan
Demokrasi. Memilih pemimpin yang mampu mengemban amanat adalah wajib hukumnya.
Bagi NU demokrasi adalah perwujudan Syura dalam Islam yaitu asas bermusyawarah
sesuai mekanisme yang benar guna membuahkan keputusan yang terbaik dan paling maslahah.
(Munas NU tahun 1997 di Lombok Tengah).
d.
Asas Tunggal
Pancasila. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia telah disepakati dan
diterima sebagai pedoman hidup bersama yang mengikat semuanya dalam menjalankan
hidup bermasyarakat, beragama dan bernegara. Maka menjadi penting memahami
pancasila dan hubungannya dengan Indonesia sebagai darul Islam. Oleh
karena itu, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya
umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. Jadi dalam hal ini, Pancasila
sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak
dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan
kedudukan agama. (Muktamar NU XXVII tahun 1984 di Situbondo, Munas NU
tahun 2012 di Cirebon).
e.
Pemilukada dan
Pilpres. Dalam pandangan Islam, pemimpin negara adalah pelanjut tugas pokok
kenabian yaitu menjaga Agama (حراسة الدين) dan mengatur dunia (سياسة الدنيا).
Mengingat pentingnya tugas pemimpin (imam), maka negara wajib dipimpin oleh
seorang imam yang cakap memegang tampuk pemerintahan. Syariat Islam sendiri
tidak menentukan sistem apa yang harus dipakai dalam pemilihan pemimpin dalam
sebuah pemerintahan. Namun hendaknya diwaspadai model pemimpin yang lahir
secara instan, yaitu para pemimpin yang tidak mengukur kemampuan dirinya
sendiri dan lebih banyak melihat kekuasaan sebagai media menuju kenikmatan
pribadi. Indikasinya pelaksanaan pilpres dan pemilukada banyak menimbulkan kamadlaratan, seperti
konflik sosial, memecah belah kerukunan,
money politik dan berujung pada korupsi serta menghabiskan anggaran negara yang
besar. (Munas NU tahun 2012 di Cirebon)
2.
Radikalisme
Radikalisme merupakan faham, wacana dan aktivisme yang
berupaya mengubah sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya
yang ada secara radikal. Oleh karena itu radikalisme-Islamisme, yaitu faham, wacana dan aktivisme yang bertujuan
mengubah sistem di atas secara
radikal agar menjadi sistem
Islami
(versi mereka).
Radikalisme memiliki dua dimensi terpenting : (1) Kekerasan, dalam pengertian menerima kekerasan
sebagai cara yang sah untuk mengubah sistem yang ada dan (2) Usaha aktif dan militan melakukan perubahan didalam masyarakat secara radikal walaupun
tidak selalu menggunakan kekerasan.
Setidaknya
sudah berjalan lebih dari satu decade, kita menyaksikan bahkan merasakan adanya
gerakan dengan ciri-ciri sebagai gerakan radikal dengan isu mendirikan negara
khilafah. Guna mendapatkan dukungan khususnya dari kalangan muda, mereka mengusung
isu “Indonesia masih jahiliyyah (kafir)” karena tidak menggunakan syari’ah
(al-Qur’an dan al-Sunnah) sebagai dasar berbangsa dan bernegara. Sebagai indikasinya
menurut mereka, negara tidak mewajibkan perempuan agar bercadar, tidak
menerapkan hukuman potong tangan, qishas, diyat dan lain sebagainya. Oleh
karena itu menurut mereka, pemerintah Indonesia mulai pusat sampai yang paling
bawah serta pihak mana saja yang mendukungnya dianggap kafir dan halal
diperangi.
Nahdlatul
Ulama’ memiliki sikap tegas jelas tentang khilafah dan takfir (menghukumi
seseorang sebagi kafir), yaitu :
a.
Khilafah.
Khilafah
sebagai system pemerintahan tidak ditemukan dalil nashnya, namun ia merupakan
persoalan ijtihadiyyah, karena bagi NU negara dengan pemerintahannya adalah
sarana guna mencapai tujuan, sehingga negara
sebagaimana Indonesia yang tidak menggunakan system khilafah, tidaklah serta
merta sah disebut negara kafir, walaupun ada sebagian hukum-hukum Islam tidak dapat
dilaksanakan dengan sempurna.
Pandangan
seperti ini telah diputuskan PWNU Jawa Timur melalui bahtsul masailnya di
Genggong pada tahun 2007 dan di Pesma al-Hikam Malang tahun 2006, yaitu :
Pertanyaan
:
Adakah
tuntutan Syari'ah berbentuk dalil nash yang mengharuskan pembakuan bentuk
khilafah dalam sistem ketatanegaraan Islam ?
Jawaban
:
Tidak
ditemukan dalil nash mengenai hal itu, karena bentuk pemerintahan sistem
khilafah adalah masalah ijtihadiyyah, dan adanya sebagian hukum syari’at Islam
yang belum dapat dilaksanakan walaupun akibat kecerobohan umat Islam, tidak
dapat merubah status negara sebagai negara kafir.
شرح النووي على صحيح مسلم جز12 ص 161 للأمام
النووي
عن سَالِمِ بنِ
عَبْدِ الله بنِ عُمَر عن أَبِيهِ قَالَ ،: قِيلَ لِعُمَرَ بنِ الْخَطَّابِ: لَوْ
اسْتَخْلَفْتَ. قَالَ إِنْ أَسْتَخْلِفْ فَقَدْ اسْتَخْلَفَ أَبُو بَكْرٍ وَإِنْ
لَمْ أَسْتَخْلِفْ لَمْ يَسْتَخْلِفْ رَسُولُ الله وفي هذا الحديث دليل أن النبي صلى الله عليه
وسلّم لم ينص على خليفة وهو إجماع أهل السنة وغيرهم
الجهاد فى
الإسلام ص : 81
يلاحظ
من معرفة هذه الأحكام أن تطبيق أحكام الشريعة الإسلامية ليس شرطا لاعتبار الدار
دار الإسلام ولكنه حق من حقوق دار الإسلام الله إياها فإن هذا التقصير لا يخرجها
عن كونها دار الإسلام ولكنه يحمل المقصرين ذنوبا وأوزارا. اهـ
شرح المحلى على جمع الجوامع جز 2 ص 275 لجلال
الدين المحلي
قال
صلى الله عليه وسلم "«الخلافة من بعدي ثلاثون سنة ثم تكون ملكاً» أي تصير. أخرجه
أبو حاتم وأحمد في المناقب،
شرح
النووي على مسلم - (ج 6 / ص 291)
وَفِي
هَذَا الْحَدِيث : دَلِيل أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَنُصّ
عَلَى خَلِيفَة ، وَهُوَ إِجْمَاع أَهْل السُّنَّة وَغَيْرهَا
Pertanyaan :
Bagaimana kecenderungan mufassirin dalam menyimpulkan
perintah memasuki Islam secara kaffah sesuai teks ayat : أدْخـُلوُا فِى السِّـلْمِ كَافَّةً (QS. al-Baqarah : 208)?
Jawaban :
Kecenderungan mufassirin
dalam menafsirkan perintah masuk Islam secara kaffah ada dua golongan yaitu :
a) Perintah masuk Islam bagi seluruh umat manusia.
b) Perintah terhadap umat Islam agar menerapkan syari’at secara penuh
dengan sekuat kemampuannya.
التفسير الكبير للإمام فخر الدين محمد بن عمر الرازى {ط.دار الكتب العلمية}
(يَاأيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا) بِالألْسِنَةِ
(أدْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَافَّةً) أى دُومُوا عَلَى الإِسْلاَمِ فِيمَا
يَسْتَأنِفُوْنَهُ مِنَ العُمْرِ وَلاَ تَخْرُجُوا عَنْهُ وَلاَ عَنْ شَرَائِعِهِ
.... الى أن قال ... قَالَ القَفَّالُ (كافة) يَصِحُّ أنْ يُرْجَعَ الَى المَأمُورِينَ
بِالدُّخُولِ اى أُدْخُلُوا بِأجْمَعِكُمْ فِى السِّلمِ وَلاَ تَفَرَّقُوا وَلاَ
تَخْتَلِفُوا - الى ان قال- وَيَصْلُحُ
أنْ يُرْجَعَ اِلَى الإِسْلاَمِ كُلِّهِ اى فِى كُلِّ شَرَائِعِهِ، قالَ
الوَاحِدِى رَحِمَهُ الله: هَذَا ألْيَقُ بِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ لأنَّهُمْ
أُمِرُوا بِالقِيَامِ كُلِهَا
b.
Takfir
Persoalan menghukumi kafir, bagi NU
adalah persoalan berat dan berhaya. Rusululah bersabda :
عَنْ
ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ «إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ
بِهَا أَحَدُهَمَا».
PWNU di Tulungagung tahun 2013
telah memutuskan mengenai kreteria takfir (menghukumi kafir), yaitu :
Pertanyaan :
Sejauh mana tuduhan kafir pada
person, institusi atau kelompok orang dapat dibenarkan dibenarkan?
Jawaban :
Menuduh
kafir kepada person atau intitusi tidak dapat dibenarkan, kecuali yang dituduh benar-benar terbukti melakukan
sebab kekafiran.
قال العلامة الامام
السيد أحمد مشهور الحداد وقد انعقد الاجماع علي منع تكفير أحد من أهل القبلة الا
بما فيه نفي الصانع القادر جل وعلا اوشرك جلي لايحتمل التأويل اوانكار النبوة
اوانكار ماعلم من الدين بالضرورة اوانكار متواتر اومجمع عليه ضرورة من الدين
والمعلوم من الدين ضرورة كالتوحيد والنبوات وختم الرسالة بمحمد صلي الله عليه وسلم
والبعث في اليوم الأخر والحساب والجزاء والجنة والنار يكفر جاحده ولايعذر أحد من
المسلمين بالجهل به الا من كان حديث عهد بالاسلام فانه يعذر الي ان يتعلمه ثم
لايعذر بعده الي ان قال وان الحكم علي المسلم بالكفر في غير هذه المواطن
التي بيناها أمر خطير وفي الحديث "اذا قال الرجل لأخيه ياكافر فقد باء بها
أحدهما" (رواه البخاري) ولا يصح صدوره الا ممن عرف بنور الشريعة مداخل الكفر
ومخارجه والحدود الفاصلة بين الكفر والايمان في حكم الشريعة الغراء (مفاهيم يجب ان
تصحح ص 81 و 82 للسيد محمد بن علوي بن
عباس المالكي المكي الحسني)
Al-Allamah al-Imam al-Sayyid Ahmad
Masyhur al-Haddad berkata, telah menjadi ijma’ tidak boleh mengkafirkan
siapapun dari ahli kiblat kecuali sebab yang mengandung penafian (pengingkaran)
terhadap wujud Allah al-Shani’ al-Qadir Jalla wa ‘Ala, syirk jaliy yang tidak
mungkin ditakwil, pengingkaran kenabian, pengingkaran hukum yang telah maklum
dari agama secara dlaruriy (pasti), pengingkaran hadits mutawatir, pengingkaran
hukum yang telah menjadi ijma’ secara dlaruriy dari agama. Persoalan yang telah
maklum secara dlaruriy seperti tauhid, kenabian, penutup kerasulan dengan Nabi
Muhammad SAW, ba’ats di hari akhir, hisab dan jaza’, surga dan neraka. Orang
yang mengingkarinya adalah kafir dan tidak seorangpun diterima alasan ketidak
tahuannya kecuali ia baru masuk agama Islam, maka ia dapat diterima alasannya
sampai dia belajar agama, kemudian sesudah itu tidak diterima alasannya
….sampai ungkapan muallif…Sesungguhnya menghukumi orang Islam dengan kufur
dalam selain tempat-tempat yang telah kami jelaskan, adalah urusan yang
berbahaya. Dijelaskan dalam hadits “apabila seseorang memanggil kawannya “hai
kafir”, maka sungguh salah satu dari keduanya telah kembali (murtad)”. HR :
Bukhari. Vonis kufur tidaklah sah kecuali dari orang yang sebab cahaya
syari’ah, ia mengetahui celah-celah masuk kedalam kekufuran dan celah-celah
keluarnya, serta batas-batas pemisah antara kufur dan iman menurut hukum
syari’at yang cemerlang.
3.
NKRI Sudah Final
Bagi NU
Ada
tiga alasan mendasar, NU menyatakan bahwa NKRI sudah final :
a.
Bagi Nahdlatul
Ulama’ negara adalah sarana guna mencapai tujuan yaitu menjamin dan melindungi kehidupan
manusia menuju maslahah ‘ammah yang selaras dengan tujuan syariat, yaitu
terpeliharanya lima hak dasar manusia (al-ushulul-khams) yaitu, perlindungan
agama, perlindungan jiwa (kehormatan), perlindungan akal, perlindungan
keturunan dan perlindungan harta.
b.
Nahdlatul Ulama’
dalam persoalan bentuk negara lebih mementingkan substansi bukan lahiriahnya.
Oleh karena itu, sekalipun negara yang kita huni dan mesti kita cintai ini
disebut Negara Kesatuan Republik Indosesia (NKRI), tetapi secara substansial
adalah negara Islam sebagaimana dijelaskan di atas.
c.
Nahdlatul Ulama’
menyadari akan kemajemukan Indonesia, baik agama, suku, ras, bahasa dan adat
istiadat, sehingga memerlukan kearifan dalam memilih dan menentukan bentuk
negara agar kemajemukan tetap terjaga dengan baik, sekaligus kebersamaan dan
persatuan dapat dicapai tanpa ada pihak yang tersinggung dan terciderai. Dengan
demikian, kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, tentram, aman dan
sentosa harus menjadi prioritas, bukan formalitas “Islam, Khilafah, Syari’ah
atau lainnya” namun justru malah berujung pada perpecahan dan pertikaian.
(disarikan dari Munas NU tahun 2012 di Cirebon)
4.
Makna Jihad Bagi NU
Keputusan
PWNU tahun 2006 di Pesma Al-Hikam Malang tentang makna “Jihad” dalam kontek
negara Indonesia :
a.
Apakah kecenderungan umum
perletakan istilah jihad dalam ungkapan Al-Qur'an dan Hadis Nabawiy ?
b.
Apa amaliyah nyata sebagai media
mengekspresikan jihad bagi individu dan kelompok muslim ?
Jawaban a :
الـفـقــه
الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى
البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته
:
معــنى
الـجــهــاد :
الـجِـهَــادُ
فِي اللّـُغَــةِ مَــصْــدَرُ
جَــاهَـــدَ، اَيْ بَـــذَلَ جُــهْــدًا فِي سَـبِــيْـلِ الْــوُصُــوْلِ إِلىَ
غَـايَــةٍ مَـا.
وَالْـجِـهَـادُ
فِي اصْـطِــلاَحِ الـشَّــرِيْــعَــةِ ألإِسْــلاَمِـيَّــةِ : بَــذْلُ
الْــجُــهْــدِ فِـي سَــبِـيْـلِ إِقـَـامَــةِ الْـمُـجْـتـَمَــعِ
الإِْسْــلاَمِـيِّ ، وَأَنْ تـَـكُــوْنَ كـَـلِــمَـةُ اللهِ هِــيَ
الْـعُـلْـيَـا ، وَأَنْ تـَـسْــوَدَّ شَــرِيـْـعَــةُ اللهِ فِي
الْــعَـالَــمِ كُــلِّــهِ .
Terjemah :
Kata jihad yang
merupakan bentu masdar dari kata kerja jaa-ha-da dalam pengertian bahasa
adalah mencurahkan kesungguhan dalam mencapai tujuan apapun.
Kata jihad dalam istilah syariat Islam
adalah mencurahkan kesungguhan dalam upaya menegakkan/mendirikan masyarakat
yang Islami dan agar kalimah Allah (ajaran tauhid) menjadi mulia serta syari’at
Allah dapat dilaksanakan diseluruh penjuru dunia.
Jawaban
b :
الـفـقــه
الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى
البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته
:
مِنَ
الــتـَّـعْــرِيْــفِ الَّـذِيْ ذَكـَـرْنـَـاهُ لِلْـجِـهَــادِ ، يـَـتـَّضِـحُ
أَنَّ الْـجِـهَــادَ أَنْــوَاعٌ
مِــنْــهَـا :
1.
الـْـجِــهـَـادُ
بِالـتـَّعْـلِــيْـمِ، وَنـَـشْــرِ الْــوَعْــيِ ألإِسْــلاَمِـيِّ ، وَرَدِّ
الـشُّـبَـهِ الْـفِــكْــرِيـَّـةِ الـَّتـِي تـَعْـتـَـرِضُ سَـبِـيْـلَ
الإِيْـمـَـانِ بِــهِ ، وَتـَـفـَهُّــمَ حَــقـَـائِــقِــهِ .
2.
الْـجِـهـَـادُ
بِـبَـــذْلِ الْـمَــالِ لِــتـَـأْمِــيْــنِ مَـا يَـحْـتـَـاجُ إِلـَـيْــهِ
الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ فِي إِقـَـامَــةِ مُـجْـتـَـمَـعِــهِــمُ
الإِسـْـلاَمِـيِّ الْـمَـنْـشُــوْدِ .
3.
الْـقِــتـَـالُ
الــدِّفـَـاعِـيُّ : وَهـُــوَ
الـَّـذِيْ يَـتـَـصَــدَّى بـِـهِ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ لِـمَــنْ يُــرِيـْـدُ
أَنْ يَــنـَـالَ مِــنْ شَــأْنِ الْـمُـسْـلِـمِـيْـنَ فِـي دِيْــنِــهِــمْ .
4.
الْــقِــتـَـالُ
الْـهُـجُـــوْمِـيِّ : وَهُــوَ الـَّـذِيْ يـَـبْــدَؤُهُ الْـمُـسْـلِـمُــوْنَ
عِــنْــدَ مـَا يَـتـَجَــهَّـــوْنَ بِـالــدَّعْــوَةِ الإِسْــلاَمِــيَّــةِ
إِلَـى الأُمَـــمِ ألأُخْــرَى فِي بـِــلاَدِهـَـا ، فَـيَــصُــدُّهُــمْ
حُــكـَّـامُــهـَـا عـَــنْ أَنْ يُـبَـلِّــغُـــوْا بِـكـَلِـمَـةِ الْــحَــقِّ
سَــمْــعَ الـنـَّـاسِ .
5.
حَــالـَـةُ
الـنَّــفِــيْــرِ الْــعـَـامِّ وَذَلِــكَ عِــنْــدَ مـَا يَــقـْـتـَـحِــمُ
أَعْــدَاءُ الْـمُـسْلِـمِـيْـنَ دِيـَـارَهـُــمْ مُــعْــتـَـدِّيـْـنَ
بِــذَلِــكَ عَـــلـَى دِيـْـنِــهِــمْ وَاَرْضِـــهِـــمْ وَحُــرِيـَّـةِ
إِعْــتِـــقـَـادِهـِــمْ
Terjemah
:
Dari
definisi yang telah kami tuturkan tentang jihad, telah jelas bahwa jihad itu
bermacam-macam, diantaranya :
1. Jihad
dengan menyelenggarakan pendidikan, menyebarluaskan persatuan Islam, menangkal
pemikiran-pemikiran mengkaburkan yang dapat menghalangi jalan menuju iman dan
memehami hakikat iman.
2. Jihad
dengan dengan membelanjakan harta guna memenuhi keperluan umat Islam dalam
menegakkan masyarakat Islam yang dicita-citakan.
3. Peperangan
pertahanan, yaitu peperangan yang dilakukan kaum muslimin guna menghadapi musuh
yang ingin mendapatkan urusan kaum muslimin dalam bidang agamanya.
4. Peperangan
penyerangan, yaitu peperangan yang dimulai oleh pihak kaum muslimin ketika
mereka menyampaikan da’wah Islam kepada umat lain dinegaranya, lalu hakim-hakim
negara itu menghalangi umat Islam menyampaian kalimah yang benar ke telinga umat
manusia.
5.
Peperangan umum, yaitu ketika
musuh-musuh Islam telah memasuki daerah-daerah umat Islam dengan melancarkan
serbuan kepada agama, bumi dan kemerdekaan berkeyakinan
الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ،
ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :
فـَالْـجِـهَــادُ
يَـكُــوْنُ بـِالـتَّـعْـلِـيْــمِ وَتـَـعَــلُّـــمِ أَحْــكـَـامِ الإِْسْــلاَمِ
وَنَــشْــرِهـَـا بَـيْـنَ الــنَّــاسِ وَبِـبَــذْلِ الْــمَـالِ وَبـِالْـمُـشَــارَكـَـةِ
فِـي قِــتـَـالِ الأَعْـــدَاءِ إِذَا أَعْــلَــنَ الإِمَــامُ الْـجِـهَــادَ ،
لِـقـَـوْلـِـهِ صلى الله عليه وسلم : " جـَـاهِــدُوا الْـمُـشْــرِكِـيْــنَ
بِـأَمْــوَالِــكُــمْ وَ اَنْـفُـسِــكُــمْ وَأَلْـسِــنَــتِــكُـــمْ "
. (رواه النسائي)
Jadi
jihad bisa dilakukan dengan cara mengajar, mempelajari hukum-hukum Islam dan
menyebarluaskannya, membelanjakan harta dan berpartisipasi berperang menghadapi
musuh apabila imam / pimpinan telah meninstruksikan jihad (perang), karena
berdasar firman Allah swt (artinya) : “Perangilah orang-orang musyrik dengan
harta kalian, jiwa kalian dan lesan kalian”
C.
Penutup
Dari
uraian di atas dapat ditarik kesimpulan :
1.
Ber “NU” wajib
niat memperbaiki diri lahir dan bathinnya, agar dapat meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Oleh
karena itu, seluruh warga NU wajib mengerti dan mengamalkan ajaran “Islam
Ahlussunnah wal Jama’ah al-Nahdliyyah” dengan sebaik-sebaiknya.
2.
NU adalah
organisasi yang menempatkan ulama’ sebagai “sentral figur teladan”, sehingga
seluruh gerak langkah dan sikap warga NU dalam urusan apapun, senantiasa
kosisten dengan tuntunan syariat agama sesuai pola pemahaman agama para
ulama’nya (ulama’ NU).
3.
Warga NU secara
individu maupun kelompok dalam bersikap dan bertindak mengenai urusan apa saja,
harusnya mencerminkan karakteristik khas NU, yaitu al-Tawassuth dan Rahmatan
lil ‘Alamin dengan benar.
4.
Jihad warga NU
dalam kontek ke-Indonesiaan adalah mempertahaan, membela dan membangun NKRI
guna meraih tujuan negara, bukan mengubah bentuk negara dan Pancasila.
5.
Terhadap
kelompok radikal agama dan politik, warga NU harus waspada dan bersikap tegas
untuk menolaknya dengan pola amar ma’ruf nahi munkar, sekaligus
mendorong dan memberi masukan kepada pemerintah agar bertindak tegas.
Terima
kasih, semoga berkenan.
Ahmad
Asyhar Shafwan
JQH:
Kelompok yang
menghafal ayat yang ujungnya menyerang kepada warga NU padahal ia tidak bias
mengamalkannya seperti dalam ash-Shaff: 3 ?
صحيح مسلم - (ج 1 / ص 50)
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».
Tangan: Adalah PENGUASA
Lisan adalah ULAMA
Inkar dengan hati adalah MASYARAKAT UMUM (al-Ghunyah)
Merealisasikan hasil kader penggerak yang diikuti oleh para
peserta kader penggerak.
Lebih baik mana pemimpin islam tapi korupsi atau non muslim
tapi adil bijaksana?
Muslimat: HTI
rajin mendatangi pengajian NU, diiming-imingi pengurus tingkat wilayah.
NU rajin turba
Fatayat: Seolah
bagi kita dalil sudah clear, tapi bagi ‘mereka’ belum. Pernahkah NU mengajak
duduk bersama dengan mereka?

0 Response to "fiqh aswaja"
Post a Comment